Mendung Diawal Pagi
"Mendung Diawal Pagi"
Enam tahun silam, Anwar hidup bersama keluarga tercintanya di Kampung yang asri nan permai, Desa Pangebatan. Ayah Anwar, Abdullah yang keseharianya sebagai Juragan Rongsok, setiap hari membanting tulang, memeras keringat untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Sementara ibu Anwar Khotijah hanyalah buruh pabrik kabel yang penghasilanya waktu itu tidak kurang dari satu juta rupiah. Anwar mempunyai seorang adik bernama Rizza, mereka berdua hidup saling mengasihi.
Anwar atau lengkapnya Mohamed Anwar Ibrahim adalah anak yang sholeh, berbakti kepada oarang tua, rajin, cerdas, sopan. Begitu juga adiknya Mohamed Rizza elkahfi. Rizza tak beda jauh dengan kepribadian kakaknya.
Setiap hari keseharian Anwar selain bersekolah yaitu mengaji dengan Pak Ustad. Ayahnya ingin semua anaknya itu jadi orang, makanya beliau selalu menasehati Anwar dan Rizza agar gemar belajar. “Anwar, Rizza kalian itu masih kecil hendaklah gemar belajar, contohnya sekolah, mengaji. Biar nanti dewasa tak menyesal dan bisa jadi orang, nanti diakherat pun dapat masuk syurganya Allah SWT.” Nasihat ayah Abdullah.
Ayah Anwar dikenal sosok yang sangat sayang terhadap anak-anaknya, beliau tidak pernah marah, memukuli, membentak-bentak. Beliau selalu berbicara dengan lemah lembut penuh makna dan kasih sayang, tak heran anak-anaknya sangatlah berbakti denganya.
Suatu ketika diwaktu sore, Anwar dan Rizza sedang asyik nonton TV. Tiba-tiba ayahnya memanggilnya.
“Anwar, Rizza sudah sore ayo cepat ngaji!!, matikan dulu TV nya.... “
“ Baik Yah....” jawab mereka serentak.
Anwar dan Rizza pun bergegas pergi ke Mushola, disana sudah berkumpul teman-temanya mau mengaji dengan Pak Ustad Mansyur.
“ Assalamu’alaikum? “ salam Anwar....
“ Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, Ayo masuk Anwar, Rizza kebetulan ngajinya sudah mau mulai “ Jawaban salam semua anak yang ngaji dan ajakan pak ustad.
Dikala senja, Anwar dan kawan-kawanya pulang dari tempat ngaji. Anwar dan Rizza pulang kerumah. Kelihatanya mereka sangatlah gembira setelah menerima pelajaran yang diberikan pak ustad yang diselingi lelucon dongeng Abu Nawas.
Keesokan harinya seperti biasa mereka berdua sekolah, ayahnya dan ibunya bekerja. Ketika matahari diatas kepala Anwar pulang sekolah kebetulan berjumpa dengan ayahnya dijalan.
“ Ayaaah........ “ sahut Anwar memanggil ayahnya. Kemudian dia menghampirinya.
“ Ayah kok tumben pulang gasik??? Tanya Anwar penuh heraan...
“ Iya nak, ayah sedikit cape dan pusing mungkin kelelahan tadi... “ jawab ayah dengan loyo.... “
Sesampainya dirumah ayah Anwar hanya bisa terbaring lemas ditempat tidurnya. Anwar terlihat cemas melihat kondisi ayahnya hingga malam tiba. Ibunya sedang kerja lembur, karena permintaan barang sedang meningkat. Ketika Ibunya pulang Anwar langsung curhat mengenai kondisi ayahnya.
“ Ibu, itu ayah dari tadi siang hanya bisa tiduran di kamar. Kayaknya penyakitnya lagi kambuh. “ Curhat Anwar.
Mendengar Anwar, Beliau langsung bergegas menghampiri ayah.
“ Ayah kenapa? Kok panas banget badanya.... ??? sudah makan belum?" Tanya ibu dengan ppenuh perhatian.
“ Ngga tau bu, dari tadi siang rasanya lemaas, tadi sudah makan Anwar yang belikan rames diwarung.” Respon ayah nada lemas.
Hingga larut malam kondisi ayah masih belum juga membaik, malahan tambah parah. Ibu memutuskan untuk membawa ayah kerumah sakit. Anwar dan Rizza ditinggal sendiri dirumah. Dirumah sakit, ayah Anwar langsung dibawa keruang IGD. Ayah langsung ditangani dokter karena kondisinya yang sudah agak parah, maklum selama ini ayah menderita penyakit dalam. Dirumah Anwar hanya bisa sedih menangis membayangkan kondisi ayahnya yang baru masuk rumah sakit, dia cemas takut terjadi apa-apa dengan ayahnya... Setiap hari Anwar dengan tantenya menjenguk ayah dirumah sakit, disana Anwar bertemu ayah yang terbaring diruang Mawar No. 4. Namun adiknya Rizza enggan mau diajak untuk bertemu ayah. Padahal ayahnya sangatlah menunggu Rizza datang menjenguknya. Mungkin setiap hari hanya lihat Anwar, dan kangen dengan Rizza.
Selama ayahnya dirumah sakit Anwar sering terlihat melamun, terkadang dia menangis sendiri dirumah. Dia sedih, rindu akan kebersamaan....
Sebelas hari sudah ayah Anwar dirawat dirumah sakit. Pagi-pagi sekali Anwar dan Rizza dibangunkan Pak Yuli dan Pamanya, agar mau menemuai ayahnya yang sedang kritis. Padahal waktu kemarin Anwar melihat ayahnya itu ceria, walaupun agak aneh.
Perasaan campur aduk mengiringi perjalanan Anwar ke rumah Sakit. Ketika sampai dia kaget ayahnya sudah dikelilingi sanak saudara yang sedang membaca Surat Yasiin dan Tahlil. Dan Pak De nya juga sedang membisikkan kalimat “ Allah... Allah...Allah “ ditelinga Ayah. Dengan kondisi itu Anwar meneteskan air mata sedih dan ikut membacakan surat yasiin untuk ayahnya tercinta... lama-kelamaan Anwar tak kuat meliahat langsung Ayahnya yang sedang menjalani Sakaratul maut......
Dia keluar dan hanya bisa melamun sedih. Sementara ayahnya hanya bisa malafadzkan dalam lisanya kalimat ‘ Allah ‘ yang sudah agak tidak jelas. Nafasnya sudah dibantu tabung Oksigen. Sekelompok juru rawat tiba-tiba menghampiri ayah Anwar, mereka sedang berusaha menyelamatkan nyawa ayah Anwar.
Teeeeeeetaaaaaaaappppppppiiiiiiii............... !!!!!!!!!!!!!!!!!!
Allah sudah berkehendak dalam ketetapan yang telah ada sejak zamam azali.
“ Innalilahi wainna ilaihi roji’un “ tepat pukul 07.15 31 Desember 2008.... Ayah Anwar menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali ke Rohmatullah dengan lafadz Allah yang terakhir terucap dalam hati dan lisanya.
Jeriiitaaaaaaaann tangissss,,,,,,,,,,,,,, seketika mengguncang seluruh isi Rumah Sakit. Waktu pagi yang cerah tiba-tiba mendung... dipenuhi gelinangan air mata yang mengalir dipipi Anwar. Dia sudah menjadi Yatim, karena ayah yang selama ini mengasihinya sudah pergi, pergi untuk selama-lamanya.....
Keluarga dirumah juga berkabung, mendengar berita meninggalnya Ayah Abdullah, selam ini beliau dikenal oarang yang baik, taat beribadah, pekerja keras. Tak heran ketika ambulance membawa jenazah ayah Anwar banyak yang datang melayat dan mendoakanya.... keluarga Anwar banyak yang sampai hilang kesadaran ( semaput ) mendengar berita ini. Ketika jenazah dimandikan dan disholati, Anwar selalu mengiringi dengan do’a. Dia masih menangis haru, dan terus menangis.... melihat ayahnya yang kemarin sudah ceria kemudian sekarang telah terbungkus kain kafan putih. Yang siap untuk dikebumikan. Lafadz
“ LAA ILAAHA ILLALLAH... LAA ILAAHA ILLALLAH... LAA ILAAHA ILLALLAH...” mengiringi setiap jalan menuju peristirahatan yang terakhir ayah Anwar.
“ LAA ILAAHA ILLALLAH... LAA ILAAHA ILLALLAH... LAA ILAAHA ILLALLAH...” mengiringi setiap jalan menuju peristirahatan yang terakhir ayah Anwar.
Anwar kini telah menjadi anak yatim, sepeniggal ayahnya dia kerap menangis kesepian kehialangan sosok ayah, yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.
Namun Anwar telah sadar, bahwa hidup itu pasti ada perpisahan. Dari dia menjadi yatim, Anwar yakin bahwa dia sedang diberi cobaan oleh Allah. Bagaimana dia harus menyikapi dengan bijak. Anwar bertekad dalam hatinya, bisa mandiri walaupun tanpa seorang ayah. Hidup mandiri adalah hikmah yang dapat dipetik Anwar ketika menjadi Yatim. Sekaarang setiap waktu Anwar selalu berdoa untuk ayahnya.... Anwar berharap dia dan sekeluarganya dapat berkumpul kembali di Syurganya Allah. Aamiin Ya robbal ‘alamin......
Dan Anwar itu ialah penulis cerpen ‘ Mendung diawal Pagi ‘ Zaenul Alim
Purwokerto, 8 Juli 2014 09.46 pm. Zaenul Alim
Cerpen Karangan : Zain Aliem
Facebook : Zaenul Zeen
Blog : zaenulalim.blogspot.com
Zain Aliem, adalah nama pena dari Zaenul Alim, seorang santri kelahiran Banyumas, 11 April 1998. Dan kini telah menggeluti pendidikan di SMK Negeri 2 Purwokerto untuk menggapai cita-cita jadi Arsitek.
ABOUT THE AUTHOR
Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible
0 komentar:
Posting Komentar